ShoutMix chat widget

Popular Posts

9.20.2011

Ketika Tuhan Menciptakan Perempuan

Ketika Tuhan menciptakan perempuan, malaikat datang dan bertanya..
” Mengapa kau begitu lama menciptakan Perempuan Tuhan??? “

Tuhan menjawab,
” Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk Perempuan?? “

” Dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan,
punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan 2 tangan”.


Malaikat menjawab dan takjub,
” hanya dengan 2 tangan ???????? tidak mungkin!!!!!!!”

Tuhan menjawab
“tidak kah kau tau,,,dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari “.

Malaikat mendekat dan mengamati Perempuan tersebut, dan bertanya,
” Tuhan,,,kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh ??????,,, seolah2 terlalu banyak beban baginya….”

Tuhan menjawab
” itu tidak seperti yang kau bayangkan,,, itu adalah air mata….”

” untuk apa??????” tanya malaikat….

Tuhan melanjutkan
” air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan,, kegalauan,, cinta,,, kesepian,,, penderitaan,,, dan kebanggaan…. serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki2…ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki Perempuan…..”

“dia dapat mengatasi beban lebih dari laki2,,,, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri…..”

“dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit,,, mampu menyanyi saat menangis,,,menangis saat terharu,,,bahkan tertawa saat ketakutan….”

” dia berkorban demi orang yang dicintainya..”
” dia mampu berdiri melawan ketidakadilan…”
” dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang….”
” dia girang dan bersorak saat kawanya tertawa bahagia…”
” dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran….”
” dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian,,, tapi dia mampu mengatasinya…dia tau bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka….”

“CINTANYA TANPA SYARAT,,,,”

” HANYA ADA 1 YANG KURANG DARI Perempuan,,, DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA…..”

0 comments:

Post a Comment

silahkand berkomentar kauuand . . .