ShoutMix chat widget

Popular Posts

9.30.2010

CERPEN : Perjalanan Hidup Ciza II


Setelah kepergian mama dan adikku yang terkecil, aku, kakak dan adiku sangat merasa kesepian. Kami semua seperti anak terlantar. Aku hanya berharap mama akan menghubungi aku dan menemuiku kelak. Sekarang yang aku lihat hanya papa yang semakin hari semakin gila, apalagi melihat tingkah laku papa terhadap si nenek yang papa sebut 'ratu adil'. Selain itu, karena kepergian mama yang entah kemana, papaku sangat sering menjelek-jelekan mama, papa bilang mama jahat, selingkuh dengan orang lain dan dengan begitu saja menelantarkan anak-anaknya. Padahal yang aku ingat, perpisahan mama dan papa juga bukan keinginan mama, aku, atau saudara-saudaraku. Melainkan nenek tua kerempeng jelek busuk itu (wkwkwkwk....). Berbeda dengan adikku yang bernama Rahma, dia termakan oleh doktrinnya papa tentang kejelekan mama. Kasihan mama ... :(

Hari demi hari telah ku lewati, hingga pada suatu saat, ketika aku memasuki semester 2, kelas 6 SD, nenekku (ibunya papa) datang mengunjungi kami. Menginap beberapa hari dirumah ku, sampai akhirnya papaku berencana untuk memindahkan aku dan adikku ke suatu tempat
dimana papaku dilahirkan, disebuah pelosok per'lemburan' yang masih sangat jarang diinjak oleh kaki orang kota (Kalipucang,, alahh), karena papa berfikir jika aku dan adikku tetap disini nantinya tidak ada yang mengurus, sedangkan kakaku yang bernama Sakti boleh tetap tinggal di Bandung bersama papa, karena pertimbangan kakakku adalah seorang laki-laki, sudah dewasa, dan mau menghadapi Ujian Negara. Tidak mungkin ikut pindah ke desa itu. (saat itu kakakku kelas 3 SMA). Betapa terkejutnya aku mendengar berita itu, aku tidak menginginkan hal itu terjadi, karena nantinya aku akan semakin jauh dengan mama, dan kemungkinan besar tidak akan bertemu lagi dengan mama.Selain itu, pendidikanku disana mana bisa berkembang! di kampung, anak perempuan hanya di ajarkan mengurus rumah tangga tidak memperdalam dan menjunjung tinggi pendidikan. Wanita yang baru berumur 15 tahun saja sudah dinikahkan, ada saudaraku disana berumur 15 tahun menikah. Bagaimana jika hal itu terjadi padaku? sedangkan cita-citaku ingin jadi wanita karir yang sukses saat itu.

Hingga pada suatu hari, mau tidak mau aku harus berangkat ke Kalipucang bersama adikku. Rencananya aku berangkat pukul 10 pagi, sambil menunggu nasi matang. Ketika itu telepon rumah berdering, kebetulan aku yang mengangkat. Ku dengar suara yang sudah tidak asing lagi di telingaku, suara lembut, suara yang dulu selalu ku dengar "Ciz,,makan . Ciz beberes. Ciz mandi (dulu aku males mandi,haha). Ciz solat" seperti itulah kira-kira. Siapakah dia? ya,, dia tidak lain dan tidak bukan adalah Mama. "Ciz, gimana kabarnya kamu? Rahma? a Sakti gimana?" tanya mama. Aku bergegas untuk memberitahu mama tentang keberangkatanku ke Kalipucang "mama, gawat,, ciza ngga mau ke Kalipucang mama, papa nyuruh aku sama si Rahma tinggal disana.." rengekku pelan-pelan karena takut terdengar papa dan adikku (dia pro papa, aku sih netral, karena gimanapun juga dia adalah papaku). "Alah.. kapan Ciz??" tanya mamaku. "sekarang mama, jam sepuluhan, nungguin nasi mateng dulu, ma ene (panggilan nenekku) lagi nyangu. Mama gimana aku ngga mau kesana mama" ujarku sedikit menangis "yaudah atuh,kamu pura-pura ke Yanti aja, ngambil buku atau apa, kamu ke terminal ci****** aja, mama nunggu disitu. Ada ngga uangnya?" tanya mama. "Uang ada mah, tapi si Rahma gimana?kalau di ajak nantinya dibilangin ke papa geura " kataku. "yaudah atuh kamu aja sok cepet ya, mama tungguin"

Akhirnya aku terpaksa berbohong mau ke rumah teman untuk mengambil bukuku yang tertinggal, padahal aku mau menemui mamaku di terminal ci****** . Sesampainya di terminal, aku bertemu mama. Betapa senangnya hatiku melihat wajah mama yang penuh kelembutan dan cantik. Mama menyuruh aku pergi ke kota M********* sendirian, sedangkan mamaku menyusul nanti. Sesampainya disana aku menceritakan seluruh pengalamanku pada uwa-uwaku. Selang hari mamaku datang dan mendaftarkanku sekolah disana. Setelah semua urusan selesai mamaku kembali lagi ke Bandung. Kini aku tinggal bersama uwaku. Sedangkan Rahma? aku sudah tidak tahu bagaimana kabar dia disana? apakah sama senangnya seperti aku? Tetapi meskipun menganggap diriku senang tinggal di kota M, tetap saja dalam hati aku selalu menangis karena mengingat papa, mama, adikku yang bungsu Juli, kebersamaan keluargaku dulu, semuanya. Belum lagi perasaan tidak nyaman tinggal bersama uwaku tanpa mama. Mama memang selalu memberi kabar tentang dirinya, tetapi sangat jarang. Mungkin dalam sebulan hanya satu kali. Apa boleh buat, aku harus tegar menghadapi semuanya.

Singkat cerita, aku lulus SD di kota M. Mamaku datang menjemputku untuk tinggal kembali bersamanya di kota Bandung. Aku sangat gembira, karena akan berkumpul kembali dengan mama. Setibanya di Bandung, aku melihat rumah yang pernah aku kunjungi yaitu tante ikok (teman dekat mamaku). Ternyata selama ini mama tinggal menumpang di rumah temannya. Tapi tidak apa, karena saat itu aku sangat senang! aku melihat Juli si bungsu sekarang sudah bisa jalan, kakakku Sakti juga sudah lulus SMU. Tapi mana adikku Rahma? Ternyata dia masih ada di desa Kalipucang. Atas suruhan mama akhirnya ka Sakti menjemput Rahma ke Kalipucang. Awalnya memang 'ma ene' tidak mengijinkan ka Sakti untuk membawa Rahma pergi, tapi ka Sakti berbohong, dia bilang akan mengembalikan Rahma lagi ke Kalipucang. Akhirnya aku bisa berkumpul dengan mama, ka Sakti, Rahma dan Juli, tanpa papa.

Hari terus berlalu, di rumah tante aku lumayan bahagia, tapi ternyata mama masih berhubungan dengan Yanto (pria yang anjurkan dengan mama oleh papa, lieur lieur tah..), aku agak keberatan sih, tapi mau bagaimanalagi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya percaya mama akan melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Selain itu yang membuat aku terkejut, banyak sms dari papa yang isinya mengancam mama, papa bilang akan memenjarakan mama jika mama masih bersama Yanto. Bagaimana jika ancaman papa itu benar? aku tidak bisa bayangkan hidup tanpa mama lagi. Tapi ternyata setelah beberapa hari berlalu, papa berhenti mengancam mama (cape atau habis pulsa kayanya..). Semenjak itu, aku merasa lega.

Hari itu bulan Juni tahun 2006, kami mulai menempati sebuah kontrakan dengan ruangan yang sempit, diisi oleh mama, ka Sakti, Rahma dan Juli. Ka Sakti meneruskan pendidikannya ke Politeknik Negeri Bandung, Rahma meneruskan sekolah dasarnya ke SD Andir Kidul II, Juli mulai masuk taman kanak-kanak dan aku masuk ke Sekolah Menengah Pertama yang letahnya tidak jauh dari kontrakanku. Dengan berjalan kaki 15 menit sudah sampai pintu gerbang sekolah. Tahun ajaran baru sudah di depan mata, mama pindah dinas ke SMP yang aku tempati, ternyata selema 6bulan kebelakang  kepala sekolah tempat mama dinas (di SMA) dulu memberikan cuti untuk menyelesaikan masalah-malahnya. Akhirnya mama mendaftarkan aku ke tempat dinas yang sekang (anak guru kan ada keringanan biaya). Kemana Yanto? Ada,, kadang-kadang dia mengunjungi kediaman kami dan sesekali memberikan bantuan berupa materi yang jumlahnya tidak besar, tetapi lumayanlah untuk meringankan beban mamaku. Maklumlah, mamaku banyak sekali hutangnya, bekas pinjaman-pinjaman papa dulu yang dipakai buat hal-hal yang tidak berguna, dan akhirnya mamaku yang harus menanggung semuanya. Disisi lain mama juga harus menyekolahkan kakakku, aku, dan kedua adikku, tetapi mamaku tetap optimis, selalu berusaha, berdoa, berikhtiar dan menyerahkan segalanya pada yang kuasa.

Kehidupanku di tahun 2006 itu, lumayan lebih baik dari sebelumnya, walaupun dalam segi ekonomi kami sangat kekurangn. Tapi dengan berkumpulnya mama,kakak, dan adik-adikku, semua beban yang ada tidak menjadi hambatan untuk kami beraktifitas, berkreasi dan berprestasi. Buktinya Aku, dengan segala kekurangan dan keterbatasanku, bisa berprestasi di sekolah. Beberapa kali aku menjadi bintang pelajar, mendapatkan peringkat satu walaupun hanya di kelas (hihi..). Kehidupanku terus berjalan, sampi tiba saat kelulusan SMP. Aku mulai memikirkan mau kemana meneruskan study, walaubagaimanapun, pendidikan nomer satu. Wajib belajar 9 tahun belum cukup bagiku. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan study ke sekolah menengah kejuruan, aku berfikir mungkin jika masuk kejuruan, aku bisa cepat bekerja dan bisa meringankan beban mama. Keputusanku jatuh pada salah satu sekolah kejuruan analis kimia, yang lama pendidikannya adalah 4 tahun. Kakakku Sakti juga sudah lulus diplomanya, dan siap-siap mencari kerja. Sedangkan Rahma masuk ke SMP yang dulu aku tempati, dan Juli masuk ke SD Andir juga.

Selama sekolah di analis, banyak sekali kendala dan masalah yang aku hadapi, dimulai dari pelajarannya yang sulit, pembelajarannya yang menyita waktu, para pengajarnya yang sangat memporsir otak, beban mental, pokonya tingkat streching yang sangat tinggi. Kelas 1 dilewati dengan penuh ketegangan karena masih beradaptasi dengan wawasan wiyata mandalanya. Kelas dua dilewati dengan penuh perjuangan, karena beban pelajarannya yang sangat banyak dan memutar otak (sampai ngosh ngoshan), belum lagi aku banyak sekali diremedial terutama dalam pelajaran-pelajaran inti yaitu kimia. Aku sempat putus asa untuk meneruskan sekolah dan sempat berniat untuk berhenti.  Tapi untungnya aku memiliki teman-teman yang sangat baik dan setia kawan, mereka selalu memberiku dukungan bahkan ada yang mau merelakan waktunya untuk mengajari aku pelajaran kimia. Akhirnya kelas 2 terlewati dan berlanjut ke kelas 3, di kelas 3 aku mulai memeras otak kembali untuk menghadapi Ujian Nasional. Alhamdulillah berkat kerja kerasku, ketiga mata pelajaran yang di ujiankan yaitu matematika, bahasa indonesia, dan bahasa inggris mendapat nilai yang baik. Kelas 3 berlalu, berlanjut ke kelas 4, di kelas 4 aku mulai merasakan kenyamanan sekolah. Dalam 1 minggu mungin hnya 3 kali aku pergi ke sekolah untuk belajar. Selanjutnya aku harus menghadapi Ujian Nasional produktif dan mengikuti kegiatan praktek kerja lapangan. Aku menjalani semuanya dengan penuh keikhlasan. Akhirnya aku lulus analis dan langsung bekerja di tempat aku prakerin. Ka Sakti juga sudah bekerja, kini tinggal Rahma yang duduk di bangku SMA dan Juli yang masih SD. Dengan begini beban mama sedikit berkurang. Kondisi ekonomi yang terpuruk demi sedikit kembali ditata. Namun selang beberapa waktu, ka Sakti memutuskan untuk menikah dengan wanita pilihannya. Bersamaan dengan itu juga ada hal yang membuat aku terkejut, aku dikabari papa bahwa papa pindah rumah, papa bilang sudah melupakan semuanya, dan papa sudah menikah lagi dengan wanita yang masih kalah dibandingkan mamaku. Ya ampun papa, bukannya bertanggungjawab terhadap apa yang ada dan sudah seharusnya, tapi malah menambah beban dan tanggungjawab yang belum tentu di penuhi. Al hasil, Etoy istri papa yang dulu adalah selingkuhannya saat hidup dengan mama diterlantarkan juga. Untuk etoy sih ucapannya dia sekarang merasakan apa yang mamaku rasakan dulu :p. 

Kini, ketika aku mulai berkerja,ka Sakti menjalani rumahtangganya, papa kembali ke kampung halaman tempat ia dilahirkan, menjalani kehidupan disana bersama istri barunya. Aku tidak tahu alasan papa pulang ke kampung halamannya. Mungkin karena ia sudah merasa apa yang dilakukannya itu sama sekali tidak ada gunanya, sesat dan tidak membuahkan apapun juga kecuali penyesalan. Sedangkan Mama.... mama.. adalah sosok yang sangat istimewa, membesarkan, mendidik dan membiayai ke empat anaknya dengan sekuat tenanga, kerja keras, banting tulang, gali lobang tutup lobang (nanti aku ganti sedikit2),karena seluruh kepunyaanku, apapun yang aku berikan untuk mama tidak akan bisa membalas jasa,kebaikan,kasihsayang MAMA, dari saat aku dilahirkan sampai saat ini. Terimakasih ma. Semua yang pernah aku alami akan aku jadikan pelajaran, dan yang penting AKU SAYANG MAMA.... " Ujar ciza cerita panjang lebar dari part I sampai part II kepada Only limited Graffiti....

1 comments:

Viona Adistie Nurani said...

prok prok prok,, ciza,, cape nulisnya tau !!!

Post a Comment

silahkand berkomentar kauuand . . .