ShoutMix chat widget

Popular Posts

1.18.2011

AIR INDUSTRI (AIR PENDINGIN)

Secara umum air untuk penggunaan sebagai air pendingin, tidak memerlukan kemurnian yang tinggi seperti halnya air untuk boiler atau air untuk proses. Hal ini disebabkan karena temperature air pendingin jauh lebih rendah dari temp air boiler.
Parameter-parameter yang dianggap penting dan ahrus diperhatikan adalah parameter yang dapat menimbulkan endapan, korosi dan mikro organisme. Deposit pada air perndingin dapat berupa endapan (floulant) yaitu pengendapan karena partikel tersuspensi / kotoran dan Deposit karena kerak (scale).
Terjadinya floulant dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, utamnaya adalah jumlah/konsentrasi dari padatan tersuspensi, kecepatan alir air, adanya pertumbuhan mikroba, korosi, dan lainnya. Sedangkan terjadinya kerak dipengaruhi oleh kadar unsur pembentuk kerak dalam air pendingin seperti Kesadahan dan Silica, pH, dan temperature.
Terjadinya Korosi dalam sistem pendingin dipengaruhi oleh pH, kandungan zat terlarut, kandungan zat tersuspensi, adanya mikro organisme, dsb.
Colling tower atau menara pendingin adalah suatu alat yang berfungsi untuk mendinginkan air pendingin pada sistim pendingin bersirkulasi. Air dipakai sebagai medium pendingin, misalnya pendingin condenser, AC, diesel generator ataupun mesin – mesin lainnya.
Jika air mendinginkan suatu unit mesin maka hal ini akan berakibat air pendingin tersebut akan naik temperaturnya, misalnya air dari temperature awal (T1) setelah digunakan untuk mendinginkan mesin maka temperaturnya akan naik menjadi ( T2 ). Disini fungsi cooling tower adalah untuk mendinginkan kembali T2 menjadi T1 dengan udara melalui Blower / Fan. Demikian proses tersebut berulang secara terus menerus.
Sistem air pendingin (cooling water) dapat dikategorikan dua tipe dasar, sebagai berikut :
1). Sistem air Pendingin satu arah ( once through)
Sistem air pendingin (cooling water) satu arah adalah suatu sistem dimana air pendingin hanya melewati satu kali alat penukar panas dan lalu dibuang kembali ke kepembuangan atau ke tempat sumber asal air.
2). Sistem air pendingin (cooling water) Sirkulasi Terbuka
Pada sistem sirkulasi terbuka ini, air secara berkesinambungan bersikulasi melewati peralatan yang akan didinginkan. Transfer panas dari peralatan ke air, dan menyebabkan terjadinya penguapan air ke udara.

Masalah yang sering timbul dalam pada seluruh sistem air pendingin (cooling water) ada tiga yaitu:
1. Korosi
Korosi terjadi pada akibat pH rendah, Selain pH ada beberapa jenis mikroorganisme yang menyebabkan korosi seperti nitrifying bacteria dan Sulfate Reducing Bacteria (SRB) yang dapat menghasilkan asam sulfida (H2S). Bakteri ini memiliki kemampuan untuk mengubah ion sufate (SO4) menjadi asam sulfida (H2S) yang sangat korosif menyerang logam besi, logam lunak. Bakteri ini hidup sebagai anaerobik ( tanpa udara )
2. Kerak
Pembentukan kerak diakibatkan oleh kandungan padatan terlarut dan material anorganik yang konsentrasinya melanpaui limit control.
Metode yang digunakan untuk mencegah terjadinya pembentukan kerak antara lain :
1) Mengendalikan kerak dengan pH
Dalam keadaan asam lemah ( kira – kira pH 6,5 ). Asam sulfat yang paling sering digunakan untuk ini, memiliki dua efek dengan memelihara pH dalam daerah yang benar dan mengubah kalsium karbonat, Ini memperkecil resiko terbentuknya kerak kalsium karbonat dan membiarkan cycle yang tinggi dari konsentrasi dalam sistem


2) Mengendalikan kerak dengan bleed off
Bleed off pada sirkulasi air cooling terbuka sangat penting untuk memastikan bahwa air tidak pekat sebagai perbandingan untuk mengurangi kelarutan dari garam mineral yang kritis. Jika kelarutan ini berkurang kerak akan terbentuk pada penukar panas.
3) Mengendalikan kerak dengan bahan kimia penghambat kerak.
Ada cukup banyak jenis bahan kimia penghambat kerak dan umumnya dari jenis bahan kimia organic, baik jenis polymer maupun jenis non polymer. Sebagai contoh, dari jenis polymer yang cukup banyak digunakan adalah polymer dari jenis acrylate; Untuk jenis non polymer, phosphonate, EDTA, Polyphospate, dsb.
3. Masalah Mokrobiologi
Mikroorganisme juga mampu membentuk deposit pada sembarangan permukaan. Hampir semua jasad renik ini menjadi kolektor bagi debu dan kotoran lainnya. Hal ini dapat menyebabkan efektivitas kerja cooling tower menjadi terganggu. Mikroorganisme yang terdeteksi di dalam air pendingin adalah algae, fungi/jamur, dan bakteri.
4. Masalah Kontaminasi
Keadaan cooling tower yang terbuka dengan udara bebas memungkinkan organisme renik untuk tumbuh dan berkembang pada sistem, belum lagi kualitas air make up yang digunakan.

0 comments:

Post a Comment

silahkand berkomentar kauuand . . .