ShoutMix chat widget

Popular Posts

1.17.2011

MAKALAH AGAMA "Peran Pemuda Seharusnya dalam Menghadapi Pendangkalan Akidah dan Globalisasi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Perkembangan globalisasi kehidupan yang telah bergulir bak roda berputar, menggelinding dan mewarnai kehidupan masyarakat dunia. Corak kehidupan itu pun beribas pada kehidupan masyarakat muslim. Corang-morengnya ajaran Islam yang bercampur-aduk tidak bisa lepas dari peranan masyarakat Barat yang berusaha mewarnai kehidupan umat Islam. Serta banyak peranan sarjanawan islam yang didikan oleh Barat turut ikut andil dalam penghilangan atau pengkaburan konsep-konsep ajaran Islam yang benar. Teknologi yang saat ini semakin pesat perkembangannya, bisa mengikis moral dan akhlak umat dan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa, benegara dan bermasyarkat. Untuk itu sangat diperlukan adanya langkah-langkah antisipasi guna merespon segala dampak negatif dari globalisasi. Yang dibutuhkan sekarang adalah peran pemuda dalam menyikapi pendangkalan akidah akibat globalisasi.

Jika ditilik dari kesejarahan, bahwa Barat telah berusaha melepaskan diri dari kehidupan beragama. Kehidupan yang terlepas dari nilai-nilai agama, dan kehidupan yang mengedepankan akal manusia semata. Pandangan hidup masyarakat hanya terhenti pada kehidupan keduniawiaan. Keyakinan terhadap kehidupan setelah kehidupan dunia meluntur bersama ketidak yakinan mereka pada nilai-nilai agama yang mereka anut.
Keyakinan yang kuat adalah yang dibutuhkan dalam beragama. Jika keyakinan tersebut luntur dari jiwa-jiwa pemeluk agama, maka yang ada hanya sifat keragu-raguan. Sebab kehidupan keagamaan tidak semuanya bisa diukur dengan akal melainkan membutuhkan sebuah keyakinan bagi tiap pemeluknya. Dan dikala keyakinan tersebut tidak tumbuh atau hilang dari masyarakat Barat, maka mereka menafikan agama, dan banyak mereka yang berpendapat bahwa ajaran agama hanya ilusi dan mimpi, agama adalah pelarian bagi orang-orang yang malas dan agama hanyalah sebuah candu. Kehidupan materialistis telah mewarnai jiwa-jiwa pemuda. Tuhan yang memiliki kekuatan dan yang menguasai segala kehidupan telah hilang dari keyakinannya dan tergantikan dengan kekuatan materi-materi. Jiwa mereka terisi dengan segala sesuatu harus berupa material bukan hal-hal yang metafisika. Standar kebutuhan mereka bukan pada nilai-nilai spiritual melainkan pada hal yang berbentuk nyata. Banyaknya pelajar muslim yang belajar didunia Barat tentang Islam, mengakibatkan tranformasi ilmu tanpa batas dan bercampur baurnya konsep Islam dan Barat. Islam yang memiliki konsep penuh dengan nilai-nilai ketauhidan dan kebenaran dalam menjalani kehidupan, lambat laun mulai dikikis sedikit demi sedikit oleh para pelajar muslim yang menemba ilmu di dunia Barat. Konsep moralitas berganti dengan konsep materialistis dengan penuh hawa nafsu dan keinginan. Konsep ketuhanan beralih pada konsep kekuasaan pada akal.
Dalam hal ini, peran pemuda harus diperhatikan sebagai generasi penerus bangsa yang juga menjadi patokan unuk perubahan dan mengatasi pendangkalan akidah dan globalisasi.

1.2. IDENTIFIKASI MASALAH
Sesuai dengan judul makalah ini “Peran Pemuda Seharusnya dalam Menghadapi Pendangkalan Akiah dan Globalisasi” maka, identifikasi permasalah sebagai berikut :
1. Bagaimana peran pemuda di masyarakat dalam menghadapi pendangkalan akidah akibat globalisasi?
2. Bagaimana cara dan sikap yang harus dilakukan para pemuda untuk mengatasi pendangkalan akidah dan globalisasi tersebut?
3. Bagaimana cara dan sikap yang harus dilakukan para pemuda untuk mengatasi pendangkalan akidah dan globalisasi tersebut?

1.3. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN DAN PEMBATASAN.
Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada masalah :
1. Pendangkalan Akidah dan Globalisasi
2. Pran pemuda di masyarakat dalam menghadapi pendangkalan akidah akibat globalisasi;
3. Cara-cara dan sikap yang harus dilakukan para pemuda untuk mengatasi pendangkalan akidah dan globalisasi tersebut.

1.4. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana deskripsi akidah dan globalisasi?
2. Bagaimana deskripsi pendangkalan akidah dan globalisasi ?
3. Bagaimana deskripsi peran pemuda di masyarakat dalam menghadapi pendangkalan akidah akibat globalisasi dan cara yan harus dilakukan untuk mengatasinya?

1.5. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap pendangkalan akidah dan globalisasi yang terjadi. Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan dan manfaat penulisan ini sebagai berikut:
1. Mengetahui fakta mengenai pendangkalan akidah dan globalisasi
2. Mengetahui cara dan peran pemuda dalam menghadapi pendangkalan akidah dan globalisasi
3. Mengaplikasikan peran yang harus dilakukan pemuda menghadapi pendangkalan akidah.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. PENDANGKALAN AKIDAN DAN GLOBALISASI
Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses yang menjadikan sesuatu menjadi mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya, the act of process or policy making something worldwide in scope or application menurut pengertian The American Heritage Dictionary, dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997). Ungkapan Ja’far Bin Abi Thalib, lihat Al Islam Ruhul Madaniyah, Musthafa al Ghulayaini, terungkap sebagai berkiut, “Kunna nahnu jahiliyyah, na’budul ashnam, wa na’kulul maitah, wa nuqat-ti’ul arham, wa nusi-ul-jiwaar, wa nakkul ul qawiyyu minna dha’ifun minna,“ artinya: “Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berke­mampuan menelan yang lemah di antara kami.”
Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari’at Islam berupa penerapan ajaran tauhid ibadah dan tauhid sosial. Ini suatu bukti tamaddun pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past), sesuai Firman Allah, “Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu.” (Q.S. 2: 141)
Zaman senantiasa mengalami perubahan Begitulah Sunatullah. Yang Kekal hanyalah Sunnatullah, aturan yang telah ditetapkan oleh Allah, Maha pencipta. Memasuki alaf ketiga atau abad dua puluh satu, ditemui suatu kenyataan, terjadinya lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat. Ditandai dengan lajunya teknologi komunikasi dan informasi.

Era globalisasi akan terjadi perubahan-perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. Sehingga terjadilah pendangkalan akidah. bHubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.2. PENYEBAB PENDANGKALANAKIDAH
Globalisasi menyangkut langsung kepentingan sosial masing-masing negara.
Masing-masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib negara-negara lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali “Social Darwinism“. Dan ini kita rasakan kini dampaknya ketika dunia dilanda ambruknya sistim ekonomi kapitalis yang berbuah dengan krisis financial global.
Kondisi ini mirip dengan kehidupan sosial budaya masyarakat jahiliyah, antara lain mengagungkan materi (berhala), mengabaikan kaedah-kaedah halal-haram, memutus hubungan silaturrahim, berbuat anarkis dan kegaduhan terhadap masyarakat (tetangga, bangsa, negara), yang kuat menelan yang lemah, dan disinilah terjadi pendangkalan akidah yang besar-besaran.
Dampak Globalisasi yang menyebabkan pendangkalan akidah:
1. Globalisasi membawa banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan).
2. Globalisasi mengakibatkan penurunan moral bangsaakibat kemajuan yang tidak diimbangi dengan spiritual.
3. Globalisasi membawa perubahan perilaku, terutama pada generasi muda (remaja).
Masalah yang dihadapi kaum pemuda diantaranya:
Banyaknya tawuran pelajar, pergaulan asusila dikalangan pelajar dan mahasiswa. Pornografi yang susah dibendung. Kalangan remaja dijangkiti kebiasaan bolos sekolah, kesukaan terhadap minuman keras, kecanduan terhadap ekstasi, menjadi budak kokain dan morfin, kesukaan judi dalam urban popular culture, musro, world-wide sing, dan sejenisnya. Para remaja cenderung bergerak menjadi generasi buih terhempas dipantai menjadi dzurriyatan dhi’afan suatu generasi yang bergerak menjadi “X-G” the loses generation dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi.
Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak atau bisa disebut terjadi pendangkalan akidah. Hilangnya kendali para pemuda, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya kaum muda.

Penyebab Utama kesemuanya itu adalah akibat globalisasi yang tak seimbang dan tak terkendali. Rusaknya sistem, pola dan politik pendidikan, hilangnya tokoh panutan, berkembangnya kejahatan orang tua, luputnya tanggung jawab lingkungan masyarakat, impotensi dikalangan pemangku adat, hilangnya wibawa ulama, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, profesi guru dilecehkan dan lain-lain.
Terjadinya dis-equilibrium (hilangnya keseimbangan moral), dalam tatanan kehidupan bermasyarakat menyebabkan lahir krisis-krisis, krisis nilai, menyangkut etika individu dan sosial berubah drastik, pada mulanya berpandangan luhur bergeser kencang kearah tidak acuh, dan lebih parah mentolerir krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup, dan ukuran nilai jadi kabur. Sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa dipertahankan. Krisis kridebilitas dengan erosi kepercayaan. Pergaulan orang tua, guru dan muballig dimimbar kehidupan mengalami kegoncangan wibawa. Krisis beban institusi pendidikan terlalu besar. Tuntutan tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi. Kesudahannya, membelenggu dinamika institusi, akhirnya impoten memikul beban tanggung jawab. Krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan elitis non-populis, tidak demokratis. Orientasi pendidikan beranjak dari mempertahankan prestasi kepada orientasi prestise, keijazahan. Krisis solidaritas, dan membesarnya kesenjangan miskin kaya, dan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata, kurangnya idealisme generasi remaja tentang peran dimasa datang.
Pergeseran budaya dengan mengabaikan nilai-nilai agama pastilah akan melahirkan tatanan hidup masyarakat dengan penyakit sosial (masyrakat) atau PEKAT yang kronis, di antaranya akan meruyak menjadi; kegemaran berkorupsi, akidahnya bertauhid namun akhlaknya tidak mencerminkan akhlak Islami, dan melalaikan ibadah.

2.3. PERAN DAN SIKAP PEMUDA DALAM MENGHADAPI PENDANGKALAN AKIDAH DAN GLOBALISASI
Pada hakekatnya semua perilaku a-moral tersebut lahir karena lepas kendali dari nilai-nilai agama dan menyimpang jauh dan keluar dari alur akhlak mulia, atau menjauh dari adat istiadat warisan leluhur dan budaya bangsa. Kondisi seperti itu telah membawa perubahan buruk terhadap generasi bangsa khususnya kaum muda dan menjadikan dunia pendidikan pada umumnya mendapat cercaan.
Generasi muda akan menjadi aktor utama dalam pentas kesejagatan (millenium ketiga). Karena itu, generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan nilai-nilai dinamik yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi.
Generasi masa depan (era globalisasi) yang diminta lahir dengan budaya luhur (tamaddun), berpaksikan tauhidik, kreatif dan dinamik, memiliki utilitarian ilmu berasaskan epistemologi Islam yang jelas, tasawwur (world view) yang integratik dan ummatik sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan transparan).
Perkembangan ke depan banyak ditentukan oleh peranan pemuda sebagai generasi penerus dan pewaris dengan kepemilikan ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosialisasi guna menggerakkan kelanjutan survival kehidupan ke depan.
Kita memerlukan generasi yang handal, dengan beberapa sikap;
1. Daya kreatif dan innovatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin,
2. kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi,
3. tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan.
4. memahami nilai-nilai budaya luhur,
5. siap bersaing dalam knowledge based society,
6. punya jati diri yang jelas, hakekatnya adalah generasi yang menjaga destiny,
7. individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa,
8. motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,
9. memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik-material, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.

2.4. UPAYA YANG DIHADAPI DALAM MENGHADAPI PENDANGKALAN AKIDAH DAN GLOBALISASI
Sangat dipahami, bahwa kekuatan hubungan ruhaniyah spiritual emosional dengan iman dan taqwa akan memberikan ketahanan bagi umat. Hubungan ruhaniyah ini akan lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional. Generasi ke depan wajib digiring menjadi taat hukum.
Upaya ini dapat dilakukan dengan cara ;
1. memulai dari lembaga keluarga dan rumah tangga, memperkokoh peran orang tua, ibu bapak , terutama kaum muda.
2. fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif,
3. memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan, bertumpu kepada cita rasa patah tumbuh hilang berganti
4. menanamkan aqidah shahih (tauhid), dan istiqamah pada agama yang dianaut,
5. menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.
6. Apabila sains dipisah dari aqidah syariah dan akhlaq akan melahirkan saintis tak bermoral agama, konsekwensinya ilmu banyak dengan sedikit kepedulian.
7. Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah,
8. penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam,
9. melazimkan musyawarah dengan disiplin dan
10. bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam yang benar. Sesuatu akan selalu indah selama benar.

Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya. Generasi yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada.
Sungguh suatu nikmat yang wajib disyukuri. “Lain syakartum la adzidannakum“, bila kamu mampu menjaga nikmat Allah (syukur), niscaya nikmat itu akan ditambah.
Di sini peran yang amat crusial dari Sinerjitas yang mesti terbangun antara Ulama dan Umarak didalam mengatasi kemelur penyakit masyarakat karena dampak Globalisasi ini dengan mengamalkan bimbingan Agama Islam.
BAB III
PENUTUP

3.1. SIMPULAN
Berdasarkan uraian bahasan “Peran Pemuda Seharusnya dalam Menghadapi Pendangkalan Akidah dan Globalisasi” dapat disimpulkan bahwa :
1. Kemerosotan Umat Islam terutama kaum pemuda, yang begitu berat ini tidak lain merupakan akibat dari jauhnya kaum muslimin terhadap sistem Islam yang telah di jalankan oleh Nabi SAW ketika beliau mendirikan Negara Madinah. Islam telah dilupakan bahkan dianggap tidak relevan lagi bagi kaum muslimin.

2. Pemuda islam perlahan-lahan terperosot dalam jebakan barat dan adanya globalisasi, yakni rusaknya akidah, moral, akhlak dan sebagainya.

3. Umat Islam terpecah-belah menjadi negara-negara yang tidak memiliki kekuatan dan di dominasi oleh barat.

4. Solusi satu-satunya untuk berbagai masalah ini adalah mengembalikan Islam sebagai sistem hidup yang mengatur kehidupan kita, baik dalam individu, masyarakat, dan negara.

3.2. SARAN
Berdasarkan uraian di atas, kami sebagai penulis menyarankan kepada kaum pemuda sebagai generasi penerus bangsa, untuk bisa memerankan dirinya sebagai pemuda yang berakhlak baik dan tidak terpengauh oleh dampak buruk dari globalisasi dunia. Para pemuda dapat mengisi waktu dalam kegiatan positif yang dapat meningkatkan akidah, sehingga nantinya peran pemuda akan sangat bebarti dalam mengatasi pendangkalan akidah dan globalisasi juga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Para pemuda diharapkan bisa menjadi patokan untuk perubahan bangsa ke arah positif dengan memperbaiki akidah.

Para pemuda dapat memanfaatkan makalah ini sebagai bahan menambah pengetahuan dalam akidah dan globalisasi. Para peneliti dapat memanfaatkan makalah ini sebagai kajian awal untuk melakukan perubahan dalam menghadapi pendangkalan akidah dan globalisasi.

1 comments:

Muhammad Hamzah said...

daftar pustakanya gak ada ya ?

Post a Comment

silahkand berkomentar kauuand . . .