ShoutMix chat widget

Popular Posts

10.23.2010

Yuuk..... Ketahui Positif Negatif Menikah Muda

Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua pribadi ke dalam satu ikatan. Lebih dari itu, pernikahan merupakan sebuah keputusan besar menyangkut masa depan yang akan dan harus dihadapi oleh pemilihnya. Lalu, pertimbangan apa saja yang kemudian harus dilakukan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah?

Jaman sekarang, sudah banyak pasangan muda memutuskan untuk menikah dengan pertimbangan menghindari maksiat. Kadang hal itu baik dilakukan, tapi ternyata ada juga nilai negatifnya.

Mengenai hal itu, psikolog dari Jagadnita Consulting, Dra Clara Istiwidarum K, MA, CPBC, memaparkan cara pandangnya.
Dimulai dari beberapa poin positif menikah muda, yaitu:

1. Usia dengan anak tak terpaut jauh
Ketika sepasang kekasih memutuskan menikah muda, maka ketika memiliki anak, usia mereka tidak akan berbeda jauh dengan usia anak.

2. Usia produktif lebih panjang
Kalau kedua pasangan menikah muda di usia dewasa awal (21-40 tahun), berarti dari mulai tahap perkembangan dewasa awal melangkah ke tahap perkembangan baru menjadi pasutri memiliki waktu yang lebih panjang. Perkembangan fisiologis dan biologisnya pun masih seimbang, sehingga masih bisa sejalan dan membuat hubungan lebih langgeng.

3. Belajar bersama
Kedua pasangan yang menikah di usia muda masih sama-sama dalam proses belajar banyak hal. Salah satu yang paling utama ialah mencoba belajar dengan berbagai cara menjadi seorang ibu dan ayah.

4. Dapat sejalan dengan anak
Saat menjadi orangtua di usia yang cenderung muda, ketika memiliki anak dapat memiliki cara pikir yang tidak terlalu beda, jadi memberi keuntungan untuk si anak. Sebab perbedaannya tidak terlalu jauh membuat pandangan mereka tidak terlalu terlihat.

Semua poin di atas, akan dapat terjadi manakala kedua pasangan sama-sama matang.

Sementara itu, poin negatif yang dapat dirasakan mereka yang memutuskan menikah muda, antara lain:

1. Faktor usia bukan penentu
Kematangan tidak ditentukan oleh faktor usia. Meskipun kedua pasangan yang memutuskan menikah telah masuk usia dewasa awal, tapi tahap perkembangannya belum sampai ke tahap itu. Maka yang terjadi ialah timbulnya cara berpikir yang beda. Semisal bagaimana membagi waktu antara keluarga dan pertemanan.
Saat pasangan yang tahap perkembangan emosionalnya belum matang, maka dia akan berusaha untuk selalu berada di dekat teman-temannya. Sebab dia belum mau meninggalkan fase bersenang-senang. Jadi, dia belum bisa berkomitmen penuh untuk menjadi seorang ayah atau ibu. Maka tak heran bila hal ini akan memicu konflik, sebab ketika seseorang menjalankan peran dan tugasnya akan berpengaruh terhadap hubungan mereka.

2. Perceraian
Ketika telah diketahui adanya tahap perkembangan emosional yang belum matang, saat kondisi tersebut berlangsung terus maka kemungkinan kedua belah pihak akan menyerah. Perceraian pun menjadi satu pilihan yang menarik.

3. Persiapan yang matang
Selain faktor kematangan, persiapan pun perlu diperhatikan. Artinya harus siap dan dipertimbangkan matang mengenai langkah yang akan ditempuh. Kalau hanya karena alasan untuk menghindari perbuatan dosa, maka merupakan langkah yang paling dangkal.
Karena lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah ikatan suci di mana dua orang yang memutuskan terikat dalam sebuah pernikahan bertanggung jawab untuk saling membina sehingga akhirnya tercipta sebuah keluarga harmonis sesuai dengan harapan.

4. Dukungan keluarga
Sebuah pernikahan tak akan terwujud tanpa adanya dukungan dari keluarga. Untuk itu, Anda pun harus mengantongi restu keluarga.
Sebab pernikahan adalah suatu ikatan yang tak terbatas waktu, jadi dukungan orangtua dan keluarga sangat diperlukan di sini agar tidak akan terjadi kondisi menyerah di tengah jalan.

0 comments:

Post a Comment

silahkand berkomentar kauuand . . .